Kritikan Pedas 6 Legenda MU terhadap Kebobrokan Setan Merah dan Kinerja Erik ten Hag: Buruk, Seperti Tim yang Tak Pernah Dilatih!

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 03 Okt 2024, 13:00 WIB
Pelatih Manchester United, Erik ten Hag meninggalkan lapangan setelah berakhirnya laga pekan ke-25 Premier League 2023/2024 menghadapi Luton Town di Kenilworth Road, Luton, Minggu (18/2/2024). (AP Photo/Ian Walton)

Bola.com, Jakarta - Posisi Erik ten Hag sebagai manajer Manchester United (MU) kembali digoyang. Masa depannya kembali menjadi bahan spekulasi setelah Setan Merah tampil buruk di kandang sendiri pada akhir pekan lalu. 

Ya, fans MU marah-marah setelah pasukan Erik ten Hag takluk 0-3 dari Tottenham Hotspur di kandang sendiri, Minggu (29/10/2024). Red Devils pun terpuruk di peringkat ke-13 klasemen sementara Liga Inggris 2024/2025. 

Advertisement

Bayangkan saja, MU kini tertinggal enam poin dari zona Liga Champions. Hasil belanja Ten Hag pada bursa transfer musim panas 2024 belum menunjukkan efek signifikan. 

Erik Ten Hag menegaskan tidak khawatir dengan kemerosotan tersebut. Dia mendukung para pemainnya untuk bangkit. 

Namun, legenda-leganda MU punya pendapat berbeda-beda. Berikut beberapa di antaranya. 

2 dari 7 halaman

1. Gary Neville

Pelatih baru Valencia, Gary Neville. (AFP/Andrew Yates)

“Penampilan di babak pertama benar-benar menjijikkan dalam hal upaya, kualitas, semua yang Anda inginkan dalam sebuah tim sepak bola,” kata Neville kepada Sky Sports setelah kekalahan dari Spurs.

“Akan ada banyak pertanyaan yang harus dijawab para pemain di tim dan manajer pada pekan depan."

“Saya sudah cukup berada di sini di Manchester United selama 10 hingga 12 tahun terakhir untuk mengetahui bahwa permainan dan hasil seperti ini perlu segera diubah. Bola salju mulai menggelinding menuruni bukit itu dan berkumpul dengan cepat. Erik ten Hag harus menghentikannya sekarang juga karena ini adalah hari yang mengejutkan, hari yang serius."

“Saya katakan sebelum pertandingan bahwa tidak ada alasan. Segunung uang telah dibelanjakan dan diinvestasikan. Babak pertama benar-benar menyedihkan, seburuk apa pun yang terjadi."

 

3 dari 7 halaman

2. Dwight Yorke

1. Dwight Yorke - Pria asal Trinidad and Tobago ini menjadi pemain Manchester United pertama yang meraih penghargaan Sepatu Emas Premier League yaitu pada musim 1998/1999. Saat itu ia sukses mengemas 18 gol. (AFP/Robin Parker)

Yorke, striker MU saat menyabet treble pada 1999, sangat vokal. Dia mengatakan segalanya bisa berakhir sangat buruk bagi Ten Hag. 

“Sulit untuk ditonton, sulit untuk diterima,” kata Yorke kepada Prime Casino.

“Anda tahu ketika akan menang dan kalah dalam sepak bola, dan tidak sering kami kalah di Old Trafford,  tetapi masalahnya adalah cara kekalahannya." 

“Kebobolan tiga gol melawan Liverpool, tiga gol kontra Bournemouth di kandang, dan sekarang tiga gol menghadapi Spurs. Ini adalah tim-tim yang biasanya datang ke MU dan sulit mendapatkan satu poin, apalagi tiga poin."

“Sulit untuk memikirkannya. Penyebab terbesar dari kekalahan ini adalah kurangnya keyakinan, kurangnya etos kerja. Orang-orang berbicara tentang identitas, dan Anda bisa menjelaskan lebih detail, tentang metodologi Anda dan semua kata-kata indah itu, tetapi Anda harus menunjukkan keinginan dan mendapatkan hak untuk memenangi pertandingan sepak bola. Itulah yang selalu melekat pada saya sejak saya berada di Manchester United."

 

4 dari 7 halaman

3. Paul Scholes

Paul Scholes merupakan pemain yang tergabung dalam Class of 92'. Usai memutuskan pensiun pada musim 2010/11, ia akhirnya dipanggil kembali ke Old Trafford pada Januari 2012. Hasilnya, Scholes berhasil mempersembahkan gelar Liga Inggris di musim itu. (AFP/Olly Greenwood)

“Mereka terlihat seperti tim sepak bola yang tidak dilatih,” kata Scholes tentang performa MU saat menghadapi Tottenham, seperti dikutip dari SuperSport.

"Dan seperti yang saya katakan, ini adalah tim yang tidak dilatih. Para pemain tampak mati gaya hari ini, mereka tampak datar dan mereka tampak tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada antusiasme untuk permainan sepak bola dan itu hanya bisa datang dari lapangan latihan."

"Ketika Anda mendatangkan pemain, Anda seharusnya mengharapkan mereka menjadi jauh lebih baik daripada yang sudah Anda miliki," imbuh Scholes. 

5 dari 7 halaman

4. Patrice Evra

3. Patrice Evra - Pria berpaspor Prancis ini akhirnya mengumumkan pensiun setelah 20 tahun menjalani karier sebagai pesepak bola. Mantan bek Manchester United tersebut mengakhiri kiprahnya di usia 38 tahun. (AFP/Paul Ellis)

Evra, sang juara Liga Champions bersama MU pada 2008, merasa kemunduran Setan Merah sulit diterima. 

“Tentu saja sulit, menyakitkan, makanya Anda melihat beberapa komentator sangat kasar karena masyarakat frustrasi,” kata Evra

“Anda sangat mencintai klub Anda dan Anda kecewa dengan beberapa penampilan. Tentu saja. Itu sebabnya, ketika saya bekerja untuk Sky, saya memohon untuk tidak mengomentari pertandingan Manchester United mana pun."

“Ketika MU kalah 1-6 melawan Tottenham dan Anda bisa melihat wajah saya di TV, saya tidak bisa menyembunyikan perasaan saya. Tidak masalah jika Anda bekerja untuk Sky dan Anda harus netral – ketika klub Anda tidak berkinerja baik…”

“Ini sulit, sulit. Orang-orang terus berbicara tentang pemecatan Ten Hag. Rasanya dia mendapat dukungan dari INEOS," imbuh Evra. 

 

6 dari 7 halaman

5. Ashley Young

Ashley Young - Pemain berusia 36 tahun ini merupakan salah satu bek yang mampu tampil sama baiknya saat bertahan maupun membantu penyerangan. Young mampu memberikan 36 assist dari 261 pertandingan selama kariernya bersama Setan Merah. (Foto: AFP/Paul Ellis)

Mantan kapten MU, Ashley Young, berada di studio Sky Sports saat MU kalah dari Tottenham dan mengungkapkan perasaannya dengan jelas.

“Manchester United tidak berkomitmen,” kata Young.

“Tidak ada usaha, tidak ada kerja keras, tidak ada yang berlari, tidak ada pemimpin di lapangan."

"Semuanya tampak terputus-putus. Tampaknya ada begitu banyak individu di mana-mana. Tidak ada yang ingin mengambil bola, tidak ada yang ingin menciptakan sesuatu. Semuanya buruk dari awal hingga akhir."

"Ketika kami berbicara di babak pertama tentang siapa tim tuan rumah, Tottenham begitu nyaman. Mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka tidak mengejar ketertinggalan. Dua bek tengah Tottenham tidak bermasalah. Tampaknya Tottenham adalah yang terbaik. Penggemar United akan pulang dengan kecewa dan memang demikian adanya," sambung Young. 

7 dari 7 halaman

6. Rio Ferdinand

Rio Ferdinand. Bek tengah ini didatangkan dari Leeds United dengan nilai 30 juta pound pada musim 2002/2003. Total 12 musim bersama Manchester United, ia tampil dalam 455 laga dengan mencetak 8 gol. Ia dilepas gratis ke QPR pada 2014 karena tidak ditawarkan kontrak baru. (Foto: AFP/Andrew Yates)

Pundit sekaligus mantan bek MU, Rio Ferdinand, vokal tentang Setan Merah selama bertahun-tahun, tak terkecuali pada pertandingan kontra Tottenham.

“Saya tidak bisa melihat cara bermain Erik ten Hag,” kata Ferdinand di saluran YouTube-nya.

“Tidak ada yang dirancang di Manchester United saat ini, dengan atau tanpa bola. Saya melihat Man United menguasai bola sekarang dan untuk waktu yang lama. Jika Bruno ingin menciptakan momen, itu saja, kami akan mencetak gol atau mendapat peluang."

“Rashford akan melakukan sesuatu atau Garnacho, momen individu adalah satu-satunya yang dijalani dan diembuskan Man United selama satu atau dua tahun terakhir. Dan saya hanya berpikir itu tidak akan bertahan selamanya."

Sumber: Mirror

 

Berita Terkait