Bola.com, Tokyo - Dua puluh tahun setelah Philippe Troussier didatangkan untuk membuat bluprint masa depan sepak bola Jepang, kini pelatih lokal Hajime Moriyasu memegang penuh kekuasaan mengendalikan Timnas Jepang. Target utamanya Negeri Sakura juara Piala Dunia edisi 2050. Jalan panjang menuju ke titik itu dimulai dengan menguasai percaturan persaingan elite Asia.
Seperti halnya Troussier, Moriyasu dapat mandat memimpin timnas olimpiade dan level senior. Harapannya sang nakhoda bisa menyinergikan sistem pembinaan berjenjang yang membawa dampak buat Timnas Jepang saat berlaga di Piala Dunia.
Baca Juga
Netizen Ngeri dengan Skuad Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2024: Ada Trio Ronaldo - Rivaldo - Kaka
Pratama Arhan Merapat tapi Telat, Kepastian Pemain Abroad Gabung Timnas Indonesia di Piala AFF 2024 Ditentukan pada 5 Desember 2024
Legenda Australia: Socceroos Bakal Kalahkan Timnas Indonesia dan Makin Cepat Lolos ke Piala Dunia 2026
Advertisement
Hajime Moriyasu yang mendampingi Akira Nishino baru saja membuat sejarah dengan mengantar Jepang lolos ke perempat final Piala Dunia 2018. Mereka hanya kalah adu penalti melawan Belgia.
Ada perbedaan antara cara pengelolaan timnas antara Troussier dengan Moriyasu. Troussier tiba di Jepang dengan dukungan dari Arsene Wenger.
Dikenal sebagai 'The White Witch Doctor' setelah sukses bersama Pantai Gading ia mendarat di Tokyo dengan reputasi sebagai bombastis, namun memiliki sedikit pengetahuan tentang permainan, negara, atau budaya Jepang.
Moriyasu, sebaliknya. Ia adalah karakter yang bersahaja, tidak pernah memicu kontroversi sepanjang menangani klub atau timnas.
Namun, tugas yang telah diberikan kepadanya mirip dengan yang diambil oleh Troussier: untuk mengawasi pergeseran generasi dan membangun menuju Piala Dunia berikutnya dengan menggunakan skuad Olimpiade sebagai landasan untuk periode baru kesuksesan sepak bola Jepang.
Piala Dunia Rusia menandai berakhirnya era pemain-pemain beken layaknya Makoto Hasebe dan bintang Keisuke Honda. Jepang butuh ikon baru agar bisa bicara banyak di World Cup 2022 Qatar. di antara mereka yang menghabiskan waktu di karir mereka.
Itu membuat Moriyasu dengan tugas mencari campuran baru untuk tim nasional di sepanjang jalan menuju Qatar 2022.
"Dan sementara saya bertanggung jawab atas tim nasional penuh dan tim Olimpiade, kami perlu mulai menjembatani kesenjangan antara tim Olimpiade dan kelompok usia di bawah mereka. Kami harus bisa menggabungkan satu generasi dengan generasi berikutnya," tutur Hajime Moriyasu seperti dilansir Reuters.
Sebagian besar fokus awal Moriyasu akan mempersiapkan Olimpiade Tokyo pada 2020. Uji coba Timnas Jepang Junior adalah pentas Asian Games 2018.
Para pemain yang berlaga di Jakarta akan jadi fondasi Timnas Jepang senior yang akan berlaga di Piala Asia yang dihelar Januari 2018 mendatang.
Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)
Sosok Rendah Hati
Rekam jejak pemain berusia 49 tahun itu sebagai pemain dan pelatih menunjukkan bahwa, terlepas dari pendekatannya yang membumi, ia memiliki visi untuk meraih sebuah kesuksesan.
Mantan gelandang Timnas Jepang itu yang menghabiskan sebagian besar karier klubnya bersama Sanfrecce Hiroshima. Moriyasu adalah bagian dari skuad Jepang yang memenangkan gelar Piala Asia pertama kalinya pada edisi 1992.
Ia didapuk sebagai pelatih kepala Sanfrecce pada tahun 2012 dan memenangkan gelar liga back-to-back dalam dua musim pertamanya yang diikuti oleh mahkota domestik ketiga pada tahun 2015.
Kejayaannya bareng Pasukan Hiroshima berakhir pada pertengahan tahun 2017 ketika ditunjuk pelatih Timnas Jepang U-23 pada bulan Oktober sebelum diikuti perluasan peran menangani timnas senior negaranya.
Situasi ini mirip dengan situasi yang dihadapi Troussier yang membawa Jepang lolos ke final Piala Dunia U-20 1999, perempat final Olimpiade 2000 dan memenangkan Piala Asia di level senior. Ia memimpin Timnas Jepang di Piala Dunia 2002 yang dihelat di Jepang-Korea.
Kepemilikan orang Perancis itu membantu meletakkan fondasi untuk sukses berkelanjutan dan sekarang Moriyasu diharapkan bisa lebih sukses dibanding Troussier, karena ia lebih memahami filosofi sepak bola Jepang. Tangan dinginnya akan bisa disaksikan publik sepak bola nasional di Asian Games 2018 nanti.
Sumber: Reuters
Advertisement