Bola.com, Jakarta - Puisi bertema pahlawan bisa kamu bacakan saat memperingati Hari Pahlawan Nasional. Di Indonesia, Hari Pahlawan Nasional diperingati setiap 10 November.
Pada tahun 2022, Hari Pahlawan Nasional akan menjadi peringatan yang ke-77. Adapun tema yang diangkat pada peringatan Hari Pahlawan Nasional 2022 adalah "Pahlawanku, Teladanku".
Baca Juga
Advertisement
Beragam cara bisa dilakukan untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur membela harkat martabat Indonesia. Satu di antaranya dengan menyusun atau membacakan puisi bertema pahlawan.
Hal itu sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan para pahlawan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Apa yang dilakukan para pahlawan dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekan bukan perkara mudah.
Melalui puisi bertema pahlawan tersebut, kita bisa belajar tentang semangat dan perjuangan demi bangsa dan negara.
Berikut ini kumpulan puisi bertema pahlawan yang penuh semangat juang, dilansir dari berbagai sumber, Rabu (9/10/2022).
Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)
Tetap Dikenang
Karya: Ilun Hanifah, SMKN 1 Punggelan
Hari ini teringat kembali
Tepat 77 tahun berlalu
Peristiwa yang sudah menjadi kenangan
Namun masih lekat di ingatan
Hari itu 10 November hujan pun turun
Ia datang menandakan ikut berkabung pada sang pahlawan
Yang telah gugur dalam perjuangan kemerdekaan
Berbekal bambu runcing seadanya
Semangatmu kian membara
Tak peduli dengan desingan peluru menghampiri
Tak mundur walau pakaianmu sudah merah lusuh
Tak gentar walau dihunjam deruan tombak
Pahlawanku...
Atas setiap tetesan peluh keringatmu,
Atas setiap tetes darahmu yang bercucuran,
Atas semangatmu yang terus berkobar,
Aku bersaksi bahwa pengorbananmu, kan kujadikan anutan
Namamu, terukir di lubuk hati terdalam
Kisahmu, kan kujadikan teladan
Dan jasamu akan tetap kukenang dalam ingatan
Advertisement
Pembangun Negeri
Karya: Ilun Hanifah, SMKN 1 Punggelan
Sosok sepertimu tak layak dimaki
Sosok sepertimu tak layak juga dibui
Pengorbananmu tak terkira
Rela mati demi negerinya berdiri
Rela tercabik-cabik untuk mengusir penjajah negeri
Rela terluka demi sang bangsa
Rela terkoyak walau sampai mati rasa
Namun kau tetap berjuang tanpa henti
Untuk kemerdekaan Indonesia abadi
Pahlawanku...
Perjuanganmu tak terlupa walau dimakan masa
Atas jasamu kini kami bisa merajut asa
Untuk meraih mimpimu
Mimpi yang tak sempat engkau nikmati
Pahlawanku...
Kau lah segenap jiwa raga demi negara
Atas jasamu kita merdeka
Kini kami bisa hidup
Tanpa takut dan gugup yang membara
Berkorban Demi Kemerdekaan
Karya: Friska Wahyu Ardina, SMKN 1 Punggelan
Kembali terdengar gemuruh tembakan
Merdu alunan langkah pahlawan
Para insan bergerak melawan penjajahan
Berusaha menerjang senapan
Maju garis terdepan membawa serdadu
Melawan hantaman setiap peluru
Semangat melawan penyiksaan
Untuk tanah air kau rela berkorban
Tetes darah pengorbananmu
Menjadi saksi di masa lalu
Meregang nyawa di medan peperangan
Demi mewujudkan kemerdekaan
Advertisement
Mengenang Pahlawan Bangsa
Karya: Friska Wahyu Ardina, SMKN 1 Punggelan
Gemuruh perang mulai berdendang
Alunan langkah para pejuang
Mereka yang rela mati
Demi kebebasan di negeri ini
Kau yang rela bertaruh nyawa
Berjuang demi kemerdekaan bangsa
Tak mengenal putus asa
Berjuang berabad lamanya
Waktu kian berlalu
Membayar ingatan di masa lalu
Mengenang jiwa yang mulia
Yang t'lah menghadap Sang Pencipta
Demi Indonesia merdeka
Pahlawan Kemerdekaan
Karya: Tegar Satrio, SMKN 1 Punggelan
Selama matahari masih menyinari dunia
Raga ini takkan berhenti sedikitpun
Tuk melindungi dan mempertahankan
Walau raga kan bersatu dengan tanah negeriku
Manusia yang rela mengerahkan seluruh tenaga
Rela mati demi tujuan suci
Berbekal keberanian dan impiannya
Mereka siap kehilangan semua yang dimiliki
Hanya ucapan terima kasih dariku
Untuk jasad yang kini menjadi tanah
Untuk raga yang sekarang menjadi abu
Karena kalian kini kami bisa merasakan kemerdekaan
Advertisement
Perjuangan Kapitan Pattimura
Karya: Vicky Febriansyah, SMKN 1 Punggelan
Beliau sangat layak disebut pahlawan
Dikala penjajah menjajah
Pattimura tidak takut dan gemetar
Dengan berani beliau melawan
Jika demi tanah air
Siap rela berkorban
Demi kebebasan tanah kelahiran
Jasa dan pengorbanan selalu dikenang
Meski dikhianati
Beliau tetap melawan
Sampai akhir hayat
Untuk indonesia
Pahlawan Negeriku
Karya: Melisa Anggreini, SMKN 1 Punggelan
Indonesiaku
Lihatlah dirimu, negeri pertiwi tercinta ini
Taukah kau dahulu?
Dirimu bagai mahkota yang diperebutkan
Diinjak-injak oleh penjajah
Yang sangat ingin memiliki dirimu
Taukah kau siapa yang membuatmu merdeka?
Para pahlawan yang membuatmu merdeka sampai saat ini
Yang mengorbankan nyawa dan raganya
Darah bercucuran dan air mata yang mengalir
Membasahi bajunya
Karena demi negeri tercinta ini
Terima kasih pahlawanku
Jasamu akan selalu ku kenang
Dan kini kan kupertahankan upayamu
Namun dengan mengembangkan kemajuan negeri ini
Dan kau akan selalu terkenang di hatiku
Advertisement
Rindu Pahlawanku
Karya: Melisa Anggreini, SMKN 1 Punggelan
Aku melangkah menyusuri kota
Dengan tujuan entah apa
Melihat orang-orang di sekelilingku
Terlihat senang tanpa rasa cemas dan kekhawatiran
Tentang negeri ini
Ku pun merenung
Kejadian 77 tahun lalu wajib dikenang
Para pahlawan sangat berjasa bagi negeri ini
Siang malam diselimuti rasa cemas dan kekhawatiran
Berjuang melawan gemuruhnya senapan
Rasa sakit dan kecemasan
Yang pernah dirasakan para pahlawan
Kini tidak lagi dirasakan
Walau rinduku menyelimuti
Tetapi kini kau tlah tenang di sisi Sang Pencipta
Sebuah Goresan
Karya: Rehan Adi Pramana, SMKN 1 Punggelan
Sebuah goresan
Kita tanamkan
Kita bakatkan
Kita kreasikan
Kita wujudkan
Seolah-olah kita adalah senapan
Yang siap meluncur
Membasmi semua yang menghadang
Sebuah goresan
Kita butuhkan
Tuk mengubah suatu yang gamang
Bangkitlah!!
Advertisement
Darah Pejuang
Karya: Guntur Yugo Pratomo, SMKN 1 Punggelan
Kali ini hujan tak biasa
Hujan peluru brutal membidik impian
Salahkah kami?
Sedangkan rempah pun tak pernah salahkan bumi
Nyawa terpenggal tiba-tiba
Ranjau membegal mencabik
Di bawah kolong harapan
Kami yang tersisa bernyali
Hirup getir darah semangat juang
Paksa bangkitkan ruh kebhinekaan
Raga bernyawa berseru
Tantang seluruh senjata
Genggam bambu runcing tanpa peduli
Dirinya dihabisi
Demi seutuhnya negeri
Membela tanah pertiwi
Merdeka harga mati